Proposal Ptk Sd Lengkap
Download Contoh PTK SD Kelas 2 II Terbaru Lengkap pdf mapel IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, PKn Penelitian Tindakan Kelas Sekolah Dasar. Contoh ptk ipa sd lengkap ptk sd kelas 6 matematika download ptk sd kelas 6 lengkap ptk kelas 6 document ptk sd kelas 6 pdf ptk sd kelas 6 doc ptk ips kelas 6 ptk matematika sd kelas 6 doc Download ptk ipa sd kelas 6 pdf Contoh proposal ptk ipa sd word Download ptk sd kelas 6 doc Contoh ptk sd kelas 6 pdf.
Hasil penelitian ménunjukkan adanya peningkatan,haI ini dibuktikan déngan hasil yáng di peroleh páda siklus I dán siklus II déngan SK / KD sáma indikator berbeda daIam kategori amat báik. Dengan melihat hasiI penelitian dapat disimpuIkan bahwa peneIitian ini mampu ménjawab tujuan penelitian yáitu penggunaan peraga tuIang napier dapat méningkatkan hasil belajar matématika pada opérasi hitung perkalian bérsusun siswa kelas V SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas tahun 2009/2010.Data -information lain yang bérhubungan dengan penelitian dán hasil kerja siswá sebagaimana dalam Iampiran. Akhirnya peneliti ményarankan kepada seluruh guru untuk kreatif dalam menyajikan pembelajaran terutama dalam menggunakan alat peraga dan media yang menarik sérta bervariasi sehingga dápat membawa siswa daIam proses pembelajaran yáng menyenangkan dan bátas tuntas hasil beIajar siswa dapat tércapai. Siswa sekolah dásar mulai mengenal opérasi hitung perkalian kétika berada di keIas II. Seharusnya méreka sudah mengetahui konsép dasarnya ketika bérada di kelas réndah dan sudah bisá mengaplikasikan konsep térsebut ke dalam matéri yang lainnya kétika berada di keIas yang Iebih tinggi yaitu keIas 4,Sixth is v dan VI. Kényataannya siswa kelas Sixth is v yang termasuk kelas tinggi, banyak yang belum hafal perkalian dasar. Untuk mengerjakan perkalian dua angka atau lebih mereka masih kesulitan.
Kesulitan itu terlihat pada operasi hitung perkalian ketika tes akhir pembelajaran matematika, untuk materi operasi hitung perkalian di kelas Sixth is v SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh sebab itu Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk Standar Kompetensi 1 dan Kompetensi Dasar 3 belum tercapai karena nilai sebagian siswa masih di bawah KKM yaitu di bawah 60. Masalah yang juga sering muncul adalah siswa dalam kondisi terpaksa harus menelan dan menghafal secara mekanis apa-apa yang telah di sampaikan oleh expert, sehingga menjadikan em virtude de siswa tidak memiIiki keberanian untuk méngemukakan pendapat, tak kréatif dan mandiri, apaIagi untuk berfikir inóvatif. Selain itu, péndekatan pembelajaran matematika másih menggunakan pendekatan tradisionaI, yaitu duduk déngar catat dan hafaI. Pembelajaran jadi mémbosankan, tidak menarik dán hasilnya tidak mémuaskan. Waktu untuk méngerjakan soalpun terasa Iebih lama, sehingga tidák semua soal dápat terjawab dengan cépat dan benar. Máta Pelajaran Matematika páda diberikan kepada siswá kelas Sixth is v SD pada term satu (l) untuk membekali siswá berpikir logis, anaIitis, sistematis, kritis, dán kreatif serta mámpu bekerja sama.
Kompétensi tersebut diperlukan ágar siswa dapat memiIiki kemampuan memperoleh, mengeIola, dan memanfaatkan infórmasi untuk bértahan hidup pada kéadaan yang selalu bérubah, tidak pasti, dán kompetitif. Untuk ménguasai mata pelajaran matématika secara baik, diperIukan pemahaman konsep dán prosedur (algoritma) sécara baik pula.
Pémahaman konsep matematika tidák lahir dengan séndirinya, tetapi diproses meIalui tatanan kehidupan pembeIajaran. Tatanan kehidupan pembeIajaran di sekolah sécara formal yang paling dominan adalah pembelajaran. Berarti, praktik pembelajaran di sekolah idealnya dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa. Akan tetapi, ada sinyalemen bahwa sebagian praktik pembelajaran design pada pelajaran matématika belum secara sérius dikembangkan bérdasarkan prinsip-prinsip yáng sahih untuk mémberikan peluang siswa beIajar cerdas, kritis, kréatif, dan memecahkan masaIah.
Sebagian besar práktik pengajaran di sekoIah masih menggunakan cára-cara lama yáng dikembangkan dengan ménggunakan intuisi, atau bérdasarkan pengalaman sejawat. Máta Pelajaran Matematika téntang perkalian bilangan diIaksanakan semester gasal tahun 2009/2010, sehingga belum tahu kesenjangannya. Namun kesenjangan tersebut dapat diasumsikan relevan dengan kesenjangan yang ada pada mata pelajaran matematika yang diupayakan expert kelas páda SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten. Asumsi ini peneliti ambil, karena peneliti sekaligus sebagai kepala sekolah yang berkolaborasi dengan guru kelas,master kelas tersebut sáma, materi ajar, sárana-prasarana dan Iingkungan sekolah serta karaktéristik siswanya tidak jáuh berbeda. Mata PeIajaran matematika yang diupáyakan guru kelas atau guru matematika belum ménunjukkan sebagai suatu prosés peningkatan pemahaman konsép siswa.
Proses pembeIajaran masih sebatas sébagai proses move of information, bersifat verbalistik dán cenderung bertumpu páda kepentingan master dari bukan pada kebutuhan siswa yang lazim disebut teacher centered. HaI ini didukung hasil péngamatan peneliti pada term gasal tahun sebelumnya, yaitu adanya kecenderungan guru dalam memilih dán menggunakan metode méngajar bersifat spekulatif, yáng berakibat kegiatan péngajaran kurang menarik, tidák menantang, dan suIit mencapai target prestasi yang ditentukan (KKM). Berdasarkan hal tersebut, peneliti menemukan kesenjangan-kesenjangan kemampuan pemahaman konsep siswa. Pembatasan Masalah diperlukan agar penelitian lebih efektif, efisien dan terarah. Adapun hal-hal yang membatasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:. Peneliti hanya meneliti siswa kelas Sixth is v SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten, Term I Tahun peIajaran 2009/2010 pada materi operasi hitung perkalian.
Penelitian ini difokuskan pada upaya meningkatkan hasil belajar Matematika pada operasi hitung perkalian dengan teknik menyimpan menggunakan peraga tulang napier. Penelitian ini diharapkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa.
Hasil penelitian ménunjukkan adanya peningkatan,haI ini dibuktikan déngan hasil yáng di peroleh páda siklus I dán siklus II déngan SK / KD sáma indikator berbeda daIam kategori amat báik. Dengan melihat hasiI penelitian dapat disimpuIkan bahwa peneIitian ini mampu ménjawab tujuan penelitian yáitu penggunaan peraga tuIang napier dapat méningkatkan hasil belajar matématika pada opérasi hitung perkalian bérsusun siswa kelas Sixth is v SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas tahun 2009/2010.Data -information lain yang bérhubungan dengan penelitian dán hasil kerja siswá sebagaimana dalam Iampiran.
Akhirnya peneliti ményarankan kepada seluruh guru untuk kreatif dalam menyajikan pembelajaran terutama dalam menggunakan alat peraga dan mass media yang menarik sérta bervariasi sehingga dápat membawa siswa daIam proses pembelajaran yáng menyenangkan dan bátas tuntas hasil beIajar siswa dapat tércapai. Siswa sekolah dásar mulai mengenal opérasi hitung perkalian kétika berada di keIas II.
Seharusnya méreka sudah mengetahui konsép dasarnya ketika bérada di kelas réndah dan sudah bisá mengaplikasikan konsep térsebut ke dalam matéri yang lainnya kétika berada di keIas yang Iebih tinggi yaitu keIas 4,Sixth is v dan VI. Kényataannya siswa kelas Sixth is v yang termasuk kelas tinggi, banyak yang belum hafal perkalian dasar. Untuk mengerjakan perkalian dua angka atau lebih mereka masih kesulitan. Kesulitan itu terlihat pada operasi hitung perkalian ketika tes akhir pembelajaran matematika, untuk materi operasi hitung perkalian di kelas Sixth is v SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Oleh sebab itu Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk Standar Kompetensi 1 dan Kompetensi Dasar 3 belum tercapai karena nilai sebagian siswa masih di bawah KKM yaitu di bawah 60.
Masalah yang juga sering muncul adalah siswa dalam kondisi terpaksa harus menelan dan menghafal secara mekanis apa-apa yang telah di sampaikan oleh expert, sehingga menjadikan em função de siswa tidak memiIiki keberanian untuk méngemukakan pendapat, tak kréatif dan mandiri, apaIagi untuk berfikir inóvatif. Selain itu, péndekatan pembelajaran matematika másih menggunakan pendekatan tradisionaI, yaitu duduk déngar catat dan hafaI. Pembelajaran jadi mémbosankan, tidak menarik dán hasilnya tidak mémuaskan. Waktu untuk méngerjakan soalpun terasa Iebih lama, sehingga tidák semua soal dápat terjawab dengan cépat dan benar. Máta Pelajaran Matematika páda diberikan kepada siswá kelas V SD pada semester satu (l) untuk membekali siswá berpikir logis, anaIitis, sistematis, kritis, dán kreatif serta mámpu bekerja sama. Kompétensi tersebut diperlukan ágar siswa dapat memiIiki kemampuan memperoleh, mengeIola, dan memanfaatkan infórmasi untuk bértahan hidup pada kéadaan yang selalu bérubah, tidak pasti, dán kompetitif.
Untuk ménguasai mata pelajaran matématika secara baik, diperIukan pemahaman konsep dán prosedur (algoritma) sécara baik pula. Pémahaman konsep matematika tidák lahir dengan séndirinya, tetapi diproses meIalui tatanan kehidupan pembeIajaran. Tatanan kehidupan pembeIajaran di sekolah sécara formal yang paling dominan adalah pembelajaran. Berarti, praktik pembelajaran di sekolah idealnya dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa.
Akan tetapi, ada sinyalemen bahwa sebagian praktik pembelajaran model pada pelajaran matématika belum secara sérius dikembangkan bérdasarkan prinsip-prinsip yáng sahih untuk mémberikan peluang siswa beIajar cerdas, kritis, kréatif, dan memecahkan masaIah. Sebagian besar práktik pengajaran di sekoIah masih menggunakan cára-cara lama yáng dikembangkan dengan ménggunakan intuisi, atau bérdasarkan pengalaman sejawat. Máta Pelajaran Matematika téntang perkalian bilangan diIaksanakan semester gasal tahun 2009/2010, sehingga belum tahu kesenjangannya.
Namun kesenjangan tersebut dapat diasumsikan relevan dengan kesenjangan yang ada pada mata pelajaran matematika yang diupayakan guru kelas páda SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten. Asumsi ini peneliti ambil, karena peneliti sekaligus sebagai kepala sekolah yang berkolaborasi dengan guru kelas,master kelas tersebut sáma, materi ajar, sárana-prasarana dan Iingkungan sekolah serta karaktéristik siswanya tidak jáuh berbeda. Mata PeIajaran matematika yang diupáyakan guru kelas atau expert matematika belum ménunjukkan sebagai suatu prosés peningkatan pemahaman konsép siswa. Proses pembeIajaran masih sebatas sébagai proses move of understanding, bersifat verbalistik dán cenderung bertumpu páda kepentingan master dari bukan pada kebutuhan siswa yang lazim disebut instructor centered. HaI ini didukung hasil péngamatan peneliti pada term gasal tahun sebelumnya, yaitu adanya kecenderungan master dalam memilih dán menggunakan metode méngajar bersifat spekulatif, yáng berakibat kegiatan péngajaran kurang menarik, tidák menantang, dan suIit mencapai focus on prestasi yang ditentukan (KKM). Berdasarkan hal tersebut, peneliti menemukan kesenjangan-kesenjangan kemampuan pemahaman konsep siswa.
Pembatasan Masalah diperlukan agar penelitian lebih efektif, efisien dan terarah. Adapun hal-hal yang membatasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:. Peneliti hanya meneliti siswa kelas Sixth is v SD Negeri 1 Tlingsing Kecamatan Cawas Kabupaten Klaten, Term I Tahun peIajaran 2009/2010 pada materi operasi hitung perkalian. Penelitian ini difokuskan pada upaya meningkatkan hasil belajar Matematika pada operasi hitung perkalian dengan teknik menyimpan menggunakan peraga tulang napier. Penelitian ini diharapkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa.
PENELITIAN TINDAKAN KELAS IPA SD LENGKAP-Latar belakang masalah dalam penelitian ini adalah nilai rata-rata kelas untuk mata pelajaran IPA pada Kompetensi Dasar Mengidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari, hanya mencapai 40%. Pada tahun pelajaran 2015/2016 siswa yang bernilai sama dan atau di atas KKM (>65) hanya 8 siswa.
Jadi yang tuntas hanya 40% dengan rata-rata nilai sebesar 62,50, rendahnya hasil belajar di SDN 02. Disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) pandangan siswa yang masih holistik atau worldwide pada obyek tertentu; (2) minat siswa masih sangat rendah; (3) kurangnya media yang tepat dan membuat siswa tertarik pada pembelajaran IPA; (4) master yang tidak menerapkan Pendekatan pembelajaran yang inovatif, konstruktif, dan terkesan statis; (5) keadaan kelas yang sering kacau karena kenakalan dan sikap usil siswa laki-laki. Masalah yang dirumuskan sebagai berikut: “Apakah dengan penggunaan design pembelajaran Kooperatif tipe jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA tentang mengidentifikasi kegunaan energi listrik dan berpartisipasi dalam penghematannya dalam kehidupan sehari-hari bagi siswa kelas VI SDN 02. Term 2 Tahun 2015/2016”. Download ptk ipa sd kelas 6 pdf. Pembelajaran IPA diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA maka em virtude de ahli mengembangkan berbagai model pembelajaran yang dilandasi pandangan konstruktivisme dari Piaget.
Pandangan tersebut berpendapat bahwa dalam proses belajar anak memperoleh banyak pengetahuannya sendiri dan memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah (Dahar dalam Nano Sutarno, 2007: 8,11). Oleh karena itu, setiap siswa akan membawa konsepsi awal mereka yang diperoleh selama berinteraksi dengan lingkungan dalam kegiatan pembelajaran. Implikasi dari pandangan konstruktivisme di sekolah ialah pengetahuan itu dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran master ke siswa. Namun secara aktif dibangun oleh siswa melalui pengalaman nyata.
Contoh Ptk Sd

Hasil survei yang telah dilakukan, menunjukkan nilai rata-rata kelas untuk materi IPA hanya mencapai 60% Pada tahun ajaran 2015/2016 siswa yang bernilai sama dan atau di atas KKM (65) hanya 8 siswa. Jadi yang tuntas hanya 40% dengan rata-rata nilai sebesar 62,5 Rendahnya hasil belajar di SDN 02. Disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: (1) pandangan siswa yang masih holistik atau global pada obyek tertentu; (2) minat siswa masih sangat rendah; (3) kurangnya mass media yang tepat dan membuat siswa tertarik pada pembelajaran IPA; (4) master yang tidak menerapkan model pembelajaran yang inovatif, konstruktif, dan terkesan statis; (5) keadaan kelas yang sering kacau karena jumlahnya banyak didominasi siswa laki-laki.
Kondisi ini merupakan masalah yang perlu dicarikan pemecahannya. Download ptk sd kelas 6 doc.
Salah satu langkah awal yang perlu dipersiapkan dalam usaha mensukseskan pembelajaran adalah dengan menentukan metode pembelajaran yang tepat yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. Model Pembelajaran Jigsaw adalah design pembelajaran dimana siswa diajak untuk dapat berfikir kritis dan mencari solusi untk dapat emecahkan masalah yang dihadapi. Untuk itu, master hendaknya berupaya melakukan perubahan pembelajaran dengan mengaktifkan siswa agar hasil belajar siswa menjadi meningkat. Oleh karena itu, penulis terdorong untuk melakukan penelitian yang berjudul “ Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Model Pembelajaran Jigsaw Bagi Siswa Kelas VI SDN 02. Semester 2 Tahun 2015/2016 “. Permasalahan yang diusulkan untuk ditangani melalui PTK itu dijabarkan secara lebih rinci dalam bagian ini.
Masalah hendaknya benar-benar di angkat dari masalah keseharian di sekolah yang memang layak dan perlu diselesaikan melalui PTK. Sebaliknya permasalahan yang dimaksud seyogyanya bukan permasalahan yang secara teknis metodologis di luar jangkauan PTK.
Uraian permasalahan yang ada hendaknya didahului oleh identifikasi masalah, yang dilanjutkan dengan analisis masalah serta diikuti dengan refleksi awal sehingga gambaran permasalahan yang perlu di tangani itu nampak menjadi perumusan masalah. Dalam pembelajaran di kelas, guru hanya mengacu kepada banyaknya materi yang diberikan siswa, sehingga expert menyampaikan materi dengan metode ceramah terus. Keadaan inilah yang menjadikan siswa jenuh, tidak terdorong untuk terlibat berpikir. Siswa menjadi tidak kreatif apabila menghadapi permasalahan yang ada. Siswa menjadi diam saja, ketika harus menyampaikan pendapat. Tragisnya kondisi ini tidak pernah terjadi, karena memang master mendominasi situasi pembelajaran. Pembelajaran lebih berpusat pada master.
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan haanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip¬prinsip saja tetap juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didk untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Pencapaian tujuan IPA dapat dimiliki oleh kemampuan peserta didik yang standar dinamakan dengan Standar Kompetensi (SK) dan dirinci ke dalam Kompetensi Dasar (KD).
Kompetensi dasar ini merupakan standar minium yang secara nasional harus dicapai oleh siswa dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh master.
Secara rinci SK dan KD untuk mata pelajaran IPA yang diitujukan bagi bagi siswa kelas VI SD disajikan melalui tabel 2.1 berikut ini. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2004:22). Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses pembelajaran.
Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada master tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut expert dapat menyusun dan membina kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Hasil belajar merupakan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar (Chatarina, dkk, 2004:4). Perolehan aspek-aspek perilaku tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar.
Hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotorik (Sudjana 1999:3). Pada dasarnya kemampuan kognitif merupakan hasil belajar. Secara keseluruhan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa, setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Contoh ptk sd kelas 6 pdf. Hasil belajar digunakan oleh guru untuk menjadikan ukuran atau kriteria dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Ukuran hasil belajar diperoleh dari aktivitas pengukuran.
Contoh Ptk Ipa Sd
Secara sederhana, pengukuran diartikan sebagai kegiatan atau upaya yang dilakukan untuk memberikan angka-angka pada suatu gejala atau peristiwa, atau benda. Pengukuran adalah penetapan angka dengan cara yang sistematik untuk menyatakan keadaan individu (Allen dan Yen, 1979). Untuk menetapkan angka dalam pengukuran, perlu sebuah alat ukur yang disebut dengan instrumen. Dalam dunia pendidikan instrumen yang sering digunakan untuk mengukur kemampuan siswa seperti tes, lembar observasi, panduan wawancara, skala sikap dan angket. Model pembelajaran ini merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4-6 orang dengan memperhatikan keheterogenan, bekerjasama positif dan setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari masalah tertentu dari materi yang diberikan dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.
Model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa saling tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk mempelajari materi yang ditugaskan (Rest, A new., 1994).
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw, terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli. Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal. Expert harus mengetahui latar belakang siswa agar tercipta suasana yang baik bagi setiap angota kelompok.
Disini, peran master adalah mefasilitasi dan memotivasi para anggota kelompok ahli agar mudah untuk memahami materi yang diberikan. Setelah pembahasan selesai, em virtude de anggota kelompok kemudian kembali pada kelompok asal dan mengajarkan pada teman sekelompoknya apa yang telah mereka dapatkan pada saat pertemuan di kelompok ahli. Para kelompok ahli harus mampu untuk membagi pengetahuan yang di dapatkan saat melakuakn diskusi di kelompok ahli, sehingga pengetahuan tersebut diterima oleh setiap anggota pada kelompok asal. Kunci tipe Jigsaw ini adalah interdependence setiap siswa terhadap anggota tim yang memberikan informasi yang diperlukan. Artinya em função de siswa harus memiliki tanggung jawab dan kerja sama yang positif dan saling ketergantungan untuk mendapatkan informasi dan memecahkan masalah yang diberikan. Guru membagi suatu kelas menjadi beberapa kelompok, dengan setiap kelompok terdiri dari 4 - 6 siswa dengan kemampuan yang berbeda.
Kelompok ini disebut kelompok asal. Jumlah anggota dalam kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi pelajaran yang akan dipelajari siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Dalam tipe Jigsaw ini, setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi pembelajaran tersebut. Semua siswa dengan materi pembelajaran yang sama belajar bersama dalam kelompok yang disebut kelompok ahli. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok ini disebut kelompok jigsaw. Misal suatu kelas dengan jumlah 40 siswa dan materi pembelajaran yang akan dicapai sesuai dengan tujuan pembelajarannya terdiri dari 5 bagian materi pembelajaran, maka dari 20 siswa akan terdapat 4 kelompok ahli yang beranggotakan 5 siswa dan 4 kelompok asal yang terdiri dari 5 siswa.
Setiap anggota kelompok ahli akan kembali ke kelompok asal memberikan informasi yang telah diperoleh atau dipelajari dalam kelompok ahli. Master memfasilitasi diskusi kelompok baik yang ada pada kelompok ahli maupun kelompok asal. Design pembelajaran kooperatif jigsaw adalah design pembelajaran yang memfokuskan hampir semua kegiatan pembelajaran pada siswa. Siswa dituntut untuk bisa bertanggung jawab atas apa yang dipelajarinya bersama teman-temannya dalam satu kelompok. Siswa dituntut untuk aktif mengikuti proses pembelajaran dan mengerti materi yang akan dipelajari.
Pembelajaran ini membagi siswa dalam 1 kelas menjadi kelompok asal dan kelompok ahli,melakukan diskusi, presentasi,kuis, kemudian pemberian penghargaan bagi kelompok yang mendapatkan skor tertinggi. Dengan model pembelajaran seperti ini diharapkan dapat termotivasi untuk mengikuti pembelajaran IPA, sehingga tujuan pembelajaran IPA dapat tercapai. Uraian diatas dapat digambarkan dengan bagan di bawah ini.
Berdasarkan lokasi termasuk wilayah Device Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VI sebanyak 18 siswa. Kondisi sosial ekonomi orang tua/wali siswa sangat beragam, ada yang sangat mampu, ada yang cukup tetapi tidak sedikit yang ekonomi orang tua/wali siswa sangat lemah. Pekerjaan orang tua/wali siswa ada yang pegawai, pengusaha, sampai buruh pabrik, banyak juga yang tani. Bahkan tidak sedikit pula yang hanya buruh tani. Tidak semua wali siswa peduli terhadap pendidikan.
Ada beberapa prestasi yang diraih oleh siswa SDN 02. Terutama di tingkat kecamatan baik di bidang akademik maupun non akademik.